Dua Kali Dipanggil Penyidik Bareskrim, Pihak Keluarga 6 Laskar FPI Tidak Hadir 

example banner

MANDIRI CYBER –  Penyidik Bareskrim Polri masih melakukan pengusutan kasus penyerangan enam (6) laskar Front Pembela Islam (FPI) terhadap anggota Polda Metro Jaya di Tol Jakarta -Cikampek, Karawang, Jawa Barat yang terjadi pada Senin (7/12/2020) dinihari.

Penyidik kemudian melakukan pemanggilan terhadap anggota keluarga 6 laskar FPI yang tewas agar hadir di Gedung Bareskrim Polri untuk diminta keterangannya sebagai saksi, namun pihak keluarga tidak memenuhi panggilan tersebut sebanyak dua kali.

Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Andi Rian Djajadi memastikan tidak akan memanggil kembali keluarga 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas.

Pati Polri ini mengatakan pihaknya menghormati permintaan keluarga 6 laskar FPI tersebut yang ingin mengundurkan diri menjadi saksi dalam kasus itu.

Menurut Brigjen Andi, pengunduran diri seseorang sebagai saksi memang diperbolehkan secara hukum. Apalagi, keluarga 6 laskar FPI merupakan salah satu pihak yang terkait dengan pelaku.

“Itu kan dijamin oleh hukum. Dalam pasal 168 KUHAP kan jelas, seseorang yang mempunyai hubungan darah segaris, itu dia berhak untuk menolak memberikan keterangan. Dan itu hak mereka,” ucap Brigjen Andi saat dikonfirmasi, Jumat (25/12/2020).

Diketahui penyidik Bareskrim sempat menjadwalkan akan memeriksa 6 keluarga laskar FPI sebagai saksi pada Senin (21/12/2020) kemarin akan tetapi pihak keluarga enam laskar FPI yang tewas tersebut tidak memenuhi pemanggilan sebagai saksi tersebut.

Pemanggilan sebagai saksi itu juga sebelumnya dilakukan penyidik Bareskim Polri terhadap 6 keluarga laskar FPI pada Senin (14/12/2020) namun tidak hadir.

Brigjen Andi Rian Djajadi, mengatakan anggota keluarga keenam laskar FPI sudah melayangkan surat ke pihaknya terkait pengunduran diri sebagai saksi dalam kasus ini. Surat diberikan kepada pihaknya kemarin, Senin 21 Desember 2020.

Dalam surat itu, pihak keluarga sudah memaparkan alasan penolakan mereka menjadi saksi. Soal pengunduran diri sebagai saksi itu disebutnya diatur dalam aturan hukum yang berlaku.

Munarman Jelaskan Anggota Keluarga Tidak Penuhi Panggilan Penyidik

Keluarga enam anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas di Tol Jakarta-Cikampek tidak memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Bareskrim Polri. Sebab, menurut mereka, dinilai pemanggilan tersebut tidak masuk akal.

Kuasa hukum FPI, Munarman menyatakan, keluarga enam anggota Laskar FPI tidak hadir karena merasa tidak masuk akal atas panggilan yang dilayangkan. Dia menyebut, keluarga enam anggota Laskar FPI tidak mengetahui peristiwa penembakan itu sehingga tidak ada yang dapat dijadikan alasan untuk dilakukan pemeriksaan.

“Keluarganya tidak hadir. Keluarganya kan, tidak tahu apa yang terjadi di lapangan,” ujar Munarman di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (14/12/2020).

Menurut Munarman, penyidik Bareskrim telah melakukan keanehan dalam mengungkap peristiwa tersebut. Salah satunya dalam melakukan pemanggilan terhadap seorang jurnalis bernama Edy Mulyadi yang melakukan investigasi ke lokasi penembakan.

“Jadi nanti kalau kalian ini melakukan investigasi, kalian dipanggil juga sebagai saksi,” ucapnya.

Sementara itu, Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Andi Rian membenarkan adanya pemanggilan keluarga enam anggota Laskar FPI yang akan diperiksa sebagai saksi pada pagi hari. Namun, hingga saat ini tidak ada konfirmasi kehadiran.

“Betul, pemeriksaan seharusnya pukul 10.00 WIB,” katanya saat dikonfirmasi.

Seperti diketahui, enam anggota laskar FPI ditembak oleh anggota polisi akibat melakukan penyerangan saat kejadian Senin (7/12/2020) dini hari di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Pihak Keluarga Datangi Komnas HAM

Keluarga korban 6 laskar FPI mendatangi kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat.

Pantauan di lokasi, keluarga korban datang sekira pukul 9.40 WIB.

Kedatangan keluarga yakni untuk memberikan keterangan terkait meninggalnya 6 laskar FPI yang ditembak polisi dalam insiden di Tol Japek KM 50.

Keluarga dari enam laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas didampingi pengacara mendatangi Komnas HAM, di Jakarta Pusat, Senin (21/12/2020).

Kedatangan mereka untuk menyerahkan bukti yang dikumpulkan FPI atas kasus penembakan 6 laskar di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Hadir menemani, politisi PKS Mardani Ali Sera, Ketua GNPF Yusuf Martak, Ketua PA 212 Slamet Ma’arif, menantu Habib Rizieq, Habib Hanif Alathos, dan tim pengacara Aziz Yanuar.

“Kami nanti akan menyerahkan semua dokumen yang terkait dengan penembakan 6 laskar, termasuk foto-foto dan beberapa kronogis yang terkait dengan kejadian tersebut,” ungkap Ketua Badan Hukum FPI sekaligus pengacara keluarga korban Sugito Atmo Prawiro saat ditemui di lokasi, Senin (21/12/2020).

Sugito menyebut keterangan yang diberikan oleh Polda Metro Jaya soal insiden tersebut masih simpang siur.

“Kemarin kan dari pihak Polda Metro Jaya tentunya kerja sama dengan Mabes Polri sudah melakukan rekonstruksi, tapi rekonstruksi itu hanya dihadiri oleh penyidik saja, tak ada yang netral,” kata Sugito.

Padahal, dikatakan Sugito, polisi merupakan bagian dari insiden di Tol Japek tersebut.

Maka itu, pihaknya akan melakukan diskusi dengan Komnas HAM terkait investigasi yang telah dilakukan selama ini.

“Tentunya kita akan kroscek dokumen yang ada dan keadaan yang ada terkait dengan kejadian tersebut. Kita nanti akan memaksimalkan dan berdiskusi dengan mereka,” ucap Sugito.

(MC | Jakarta)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!