Diminta Polrestabes Makassar Telusuri Dugaan Modus Penumpukan Angka Meteran di PDAM

example banner

MAKASSAR | Mandiri Cyber – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar, diduga memakai Modus Penumpukan Angka Meteran, “memaksa” pelanggan membayar air dengan harga sangat mahal.

Modus tersebut diduga dilakukan melalui Admin yang mengimput data pemakaian air pelanggang, yang beroperasi di Kantor PDAM Wilayah IV, Jalan Ratulangi Makassar.

Seperti yang dialami seorang pengontrak yang tinggal di Jalan Manokwari Makassar, Nama Pelanggang Drs H. Mas’ud, ID: 201700419.

Kronologis penumpukan angka Meteran diduga sengaja dilakukan Admin PDAM Wil. IV Makassar.

Pada bulan Januari 2020, muncul tagihan pelanggan Atas Nama Drs H. Masud, dengan nilai Rp. 46.000,- diduga ini hanya biaya beban, tidak ada pemakaian (red, diduga mulai terjadi penumpukan angka pada meteran).

Bulan Februari 2020, muncul tagihan pelanggan dengan nilai yang sama Rp. 46.000,- (red, terjadi dugaan penumpukan angka meteran lagi).

Maret 2020, muncul tagihan dengan nilai Rp. 46.000,- (red, diduga terjadi penumpukan lagi pada meteran).

Bulan April 2020, muncul tagihan dengan nilai Rp. 81.600,- (red, diduga pemakaian normal).

Mei 2020, muncul tagihan dengan nilai Rp. 36.000,- (red, diduga terjadi penumpukan angka pada meteran lagi).

Juni 2020, muncul tagihan dengan nilai Rp. 98.400,- (red, tagihan diduga normal).

Juli 2020, muncul tagihan denggan nilai Rp. 141.000,- (red, diduga tagihan pemakaian normal).

Agustus 2020, muncul tagihan dengan nilai Rp. 91.600,- (red, diduga tagihan normal).

September 2020, muncul tagihan Rp. 1.582.890,- (red, angka numpuk pada meteran dimunculkan jumlah 173 M3, untuk dibayar dengan harga per M3 mencapai hampir 300% dari harga yang seharunya pelanggang bayar).

Menurut salah seorang pelanggan yang mengalami bahwa, ini adalah “Modus” agar pelanggan membayar air dengan harga sangat mahal.

“Saya hanya ngonterak pak, rumah kontrakan yang saya tempati Atas Nama Drs H. Masud, Pelanggan PDAM R- 5, harga air seharusnya saya bayar per M3 Rp. 3.400,- sampai Rp.4.660, – dengan adanya angka tumpuk 173, saya “dipaksa” harus bayar dengan harga air Rp. 10.930,- per M3, dengan nilai total Rp. 1.583.890,-” keluh pak AQA kepada awak media.

Ia menambahkan, dari Pelanggan PDAM yang jumlahnya kurang lebih 170.000, 10% persen saja pelanggan diperlakukan seperti saya, maka PDAM dapat meraut uang Pelanggan Miliaran rupiah pertahun, dan ini bisa jadi lahan “Korupsi” di lingkup PDAM Makassar.

Diduga modus ini sudah dilakukan pihak PDAM, selama bertahun-tahun, ironisnya PDAM Makassar masih terbebani utang Rp. 121 Milliar.

Dengan adanya berita ini, diminta Tim Tipikor Polrestabes Makassar menelusuri, dugaan modus operandi penumpukan angka meteran di PDAM, karena meresahkan dan dapat merugikan pelanggan PDAM Kota Makassar.

Dan jika hal ini terbukti, diminta Gubernur Sulsel memerintahkan Pj. Walikota, mencopot Direktur PDAM Kota Makassar.

(Makassar | MC)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!